Unsur Intrinsik Dalam Cerpen (Tema, Latar, dan Penokohan)
JASA PEMBUATAN PTK (PENELITIAN TINDAKAN KELAS)
Harga Per PTK 300ribu, Kalau ambil lebih dari dua bisa kurang.
Untuk Pilihan Judul PTK Klik Disini
Atau Cek FB Kami Disini
CERPEN
Cerpen merupakan genre sastra yang jauh lebih muda usianya dibandingkan dengan puisi dan novel. Tonggak penting sejarah penulisan cerpen di Indonesia dimulai Muhamad Kasim dan Suman Hasibuan pada awal 1910-an
Cerpen merupakan cerita yang pendek, hanya mengisahkan satu peristiwa (konflik tunggal), tetapi menyelesaikan semua tema dan persoalan secara tuntas dan utuh. Awal cerita (opening) ditulis secara menarik dan mudah diingat oleh pembacanya. Kemudian, pada bagian akhir cerita (ending) ditutup dengan suatu kejutan (surprise).
Menurut Phyllis Duganne, seorang wanita penulis dari Amerika, cerpen ialah susunan kalimat yang merupakan cerita yang mempunyai awal, bagian tengah, dan akhir. Setiap cerpen mempunyai tema, yakni inti cerita atau gagasan yang ingin diucapkan cerita itu. Seperti halnya
penamaannya, cerita pendek, cerpen ialah bentuk cerita yang dapat dibaca tuntas dalam sekali duduk.
Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik dalam Cerpen
Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra, unsure-unsur yang secara faktual
dapat dijumpai jika orang membaca karya sastra. Unsur intrinsik dalam karya sastra, khususnya cerpen, meliputi tokoh/ penokohan, alur (plot), gaya bahasa, sudut pandang, latar (setting), tema, dan amanat.
Berikut penjelasan mengenai unsur intrinsik.
1. Tokoh dan Karakter Tokoh
Istilah tokoh menunjuk pada orangnya, pelaku cerita, sedangkan watak, perwatakan, atau karakter menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh yang menggambarkan kualitas pribadi seorang tokoh. Tokoh cerita menempati posisi strategis sebagai pembawa dan penyampai pesan, amanat, atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan kepada pembaca. Secara umum kita mengenal tokoh protagonis dan antagonis.
Tokoh protagonis adalah tokoh yang kita kagumi, tokoh yang merupakan pengejawantahan norma-norma, nilai-nilai yang ideal bagi kita. Tokoh protagonis menampilkan sesuatu yang sesuai dengan pandangan dan harapan pembaca. Adapun tokoh antagonis adalah tokoh yang menyebabkan terjadinya konflik. Tokoh antagonis merupakan penentang tokoh protagonis.
Ada beberapa cara penggambaran karakter tokoh dalam cerpen, di antaranya sebagai berikut.
– Melalui apa yang diperbuat tokoh. Hal ini berkaitan dengan bagaimana sang tokoh bersikap dalam situasi ketika tokoh harus mengambil keputusan.
– Melalui ucapan-ucapan tokoh. Dari apa yang diucapkan tokoh kita dapat mengetahui karakternya.»
– Melalui penjelasan langsung. Dalam hal ini penulis menggambarkan secara langsung karakter tokoh.»
2. Latar (Setting)
Latar dalam sebuah cerita menunjuk pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwaperistiwa yang diceritakan. Latar memberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas. Hal ini penting untuk memberikan kesan realistis kepada pembaca, menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah sungguh-sungguh ada dan terjadi. Unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok, yaitu sebagai berikut.
a. Latar Tempat
Latar tempat merujuk pada lokasi terjadinya peristiwa. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu.
b. Latar Waktu
Latar waktu berhubungan dengan “kapan” terjadinya peristiwaperistiwa yang diceritakan.
c. Latar Sosial
Latar sosial merujuk pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan dosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Latar sosial dapat berupa kebiasaan hidup, istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap, serta hal-hal lainnya.
3. Alur (Plot)
Alur adalah urutan peristiwa yang berdasarkan hukum sebab akibat. Alur tidak hanya mengemukakan apa yang terjadi, akan tetapi menjelaskan mengapa hal ini terjadi. Kehadiran alur dapat membuat cerita berkesinambungan. Oleh karena itu, alur biasa disebut juga susunan cerita atau jalan cerita. Ada dua cara yang dapat digunakan dalam menyusun bagianbagian cerita, yakni sebagai berikut. Pengarang menyusun peristiwa-peristiwa secara berurutan mulai dari perkenalan sampai penyelesaian. Susunan yang demikian disebut alur maju. Urutan peristiwa tersebut meliputi:
– mulai melukiskan keadaan (situation);
– peristiwa-peristiwa mulai bergerak (generating circumtanses);
– keadaan mulai memuncak (rising action);
– mencapai titik puncak (klimaks)
– pemecahan masalah/ penyelesaian (denouement)
Pengarang menyusun peristiwa secara tidak berurutan. Pengarang dapat memulainya dari peristiwa terakhir atau peristiwa yang ada di tengah, kemudian menengok kembali pada peristiwaperistiwa yang mendahuluinya. Susunan yang demikian disebut alur sorot balik (flashback). Selain itu, ada juga istilah alur erat dan alur longgar. Alur erat adalah jalinan peristiwa yang sangat padu sehingga apabila salah satu peristiwa ditiadakan maka dapat mengganggu keutuhan cerita. Adapun alur longgar adalah jalinan peristiwa yang tidak begitu padu sehingga apabila salah satu peristiwa ditiadakan tidak akan mengganggu jalan cerita.
4. Sudut Pandang (Point of View)
Sudut pandang adalah visi pengarang dalam memandang suatu peristiwa dalam cerita. Untuk mengetahui sudut pandang, kita dapat mengajukan pertanyaan siapakah yang menceritakan kisah tersebut? Ada beberapa macam sudut pandang, di antaranya sudut pandang orang pertama (gaya bercerita dengan sudut pandang “aku”), sudut pandang peninjau (orang ketiga), dan sudut pandang campuran.
5. Gaya Bahasa
Gaya bahasa adalah cara khas penyusunan dan penyampaian dalam bentuk tulisan dan lisan. Ruang lingkup dalam tulisan meliputi penggunaan kalimat, pemilihan diksi, penggunaan majas,dan penghematan kata. Jadi, gaya merupakan seni pengungkapan seorang pengarang terhadap karyanya.
6. Tema
Tema adalah persoalan pokok sebuah cerita. Tema disebut juga ide cerita. Tema dapat berwujud pengamatan pengarang terhadap berbagai peristiwa dalam kehidupan ini. Kita dapat memahami tema sebuah cerita jika sudah membaca cerita tersebut secara keseluruhan.
7. Amanat
Melalui amanat, pengarang dapat menyampaikan sesuatu, baik hal yang bersifat positif maupun negatif. Dengan kata lain, amanat adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang berupa pemecahan atau jalan keluar terhadap persoalan yang ada dalam cerita. Adapun unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangun cerita sebuah karya.
Tugas
1. Pilihlah sebuah cerpen kemudian bacalah cerpen tersebut (setiap anak tidak boleh sama)!
2. Analislah tema, latar dan penokohan dari cerpen tersebut!
3. Kirim tugas tersebut ke komentar dalam fauzazi.wordpress.com paling lambat tanggal 10 Juni 2010!
Cerpen merupakan genre sastra yang jauh lebih muda usianya dibandingkan dengan puisi dan novel. Tonggak penting sejarah penulisan cerpen di Indonesia dimulai Muhamad Kasim dan Suman Hasibuan pada awal 1910-an
Cerpen merupakan cerita yang pendek, hanya mengisahkan satu peristiwa (konflik tunggal), tetapi menyelesaikan semua tema dan persoalan secara tuntas dan utuh. Awal cerita (opening) ditulis secara menarik dan mudah diingat oleh pembacanya. Kemudian, pada bagian akhir cerita (ending) ditutup dengan suatu kejutan (surprise).
Menurut Phyllis Duganne, seorang wanita penulis dari Amerika, cerpen ialah susunan kalimat yang merupakan cerita yang mempunyai awal, bagian tengah, dan akhir. Setiap cerpen mempunyai tema, yakni inti cerita atau gagasan yang ingin diucapkan cerita itu. Seperti halnya
penamaannya, cerita pendek, cerpen ialah bentuk cerita yang dapat dibaca tuntas dalam sekali duduk.
Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik dalam Cerpen
Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra, unsure-unsur yang secara faktual
dapat dijumpai jika orang membaca karya sastra. Unsur intrinsik dalam karya sastra, khususnya cerpen, meliputi tokoh/ penokohan, alur (plot), gaya bahasa, sudut pandang, latar (setting), tema, dan amanat.
Berikut penjelasan mengenai unsur intrinsik.
1. Tokoh dan Karakter Tokoh
Istilah tokoh menunjuk pada orangnya, pelaku cerita, sedangkan watak, perwatakan, atau karakter menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh yang menggambarkan kualitas pribadi seorang tokoh. Tokoh cerita menempati posisi strategis sebagai pembawa dan penyampai pesan, amanat, atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan kepada pembaca. Secara umum kita mengenal tokoh protagonis dan antagonis.
Tokoh protagonis adalah tokoh yang kita kagumi, tokoh yang merupakan pengejawantahan norma-norma, nilai-nilai yang ideal bagi kita. Tokoh protagonis menampilkan sesuatu yang sesuai dengan pandangan dan harapan pembaca. Adapun tokoh antagonis adalah tokoh yang menyebabkan terjadinya konflik. Tokoh antagonis merupakan penentang tokoh protagonis.
Ada beberapa cara penggambaran karakter tokoh dalam cerpen, di antaranya sebagai berikut.
– Melalui apa yang diperbuat tokoh. Hal ini berkaitan dengan bagaimana sang tokoh bersikap dalam situasi ketika tokoh harus mengambil keputusan.
– Melalui ucapan-ucapan tokoh. Dari apa yang diucapkan tokoh kita dapat mengetahui karakternya.»
– Melalui penjelasan langsung. Dalam hal ini penulis menggambarkan secara langsung karakter tokoh.»
2. Latar (Setting)
Latar dalam sebuah cerita menunjuk pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwaperistiwa yang diceritakan. Latar memberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas. Hal ini penting untuk memberikan kesan realistis kepada pembaca, menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah sungguh-sungguh ada dan terjadi. Unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok, yaitu sebagai berikut.
a. Latar Tempat
Latar tempat merujuk pada lokasi terjadinya peristiwa. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu.
b. Latar Waktu
Latar waktu berhubungan dengan “kapan” terjadinya peristiwaperistiwa yang diceritakan.
c. Latar Sosial
Latar sosial merujuk pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan dosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Latar sosial dapat berupa kebiasaan hidup, istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap, serta hal-hal lainnya.
3. Alur (Plot)
Alur adalah urutan peristiwa yang berdasarkan hukum sebab akibat. Alur tidak hanya mengemukakan apa yang terjadi, akan tetapi menjelaskan mengapa hal ini terjadi. Kehadiran alur dapat membuat cerita berkesinambungan. Oleh karena itu, alur biasa disebut juga susunan cerita atau jalan cerita. Ada dua cara yang dapat digunakan dalam menyusun bagianbagian cerita, yakni sebagai berikut. Pengarang menyusun peristiwa-peristiwa secara berurutan mulai dari perkenalan sampai penyelesaian. Susunan yang demikian disebut alur maju. Urutan peristiwa tersebut meliputi:
– mulai melukiskan keadaan (situation);
– peristiwa-peristiwa mulai bergerak (generating circumtanses);
– keadaan mulai memuncak (rising action);
– mencapai titik puncak (klimaks)
– pemecahan masalah/ penyelesaian (denouement)
Pengarang menyusun peristiwa secara tidak berurutan. Pengarang dapat memulainya dari peristiwa terakhir atau peristiwa yang ada di tengah, kemudian menengok kembali pada peristiwaperistiwa yang mendahuluinya. Susunan yang demikian disebut alur sorot balik (flashback). Selain itu, ada juga istilah alur erat dan alur longgar. Alur erat adalah jalinan peristiwa yang sangat padu sehingga apabila salah satu peristiwa ditiadakan maka dapat mengganggu keutuhan cerita. Adapun alur longgar adalah jalinan peristiwa yang tidak begitu padu sehingga apabila salah satu peristiwa ditiadakan tidak akan mengganggu jalan cerita.
4. Sudut Pandang (Point of View)
Sudut pandang adalah visi pengarang dalam memandang suatu peristiwa dalam cerita. Untuk mengetahui sudut pandang, kita dapat mengajukan pertanyaan siapakah yang menceritakan kisah tersebut? Ada beberapa macam sudut pandang, di antaranya sudut pandang orang pertama (gaya bercerita dengan sudut pandang “aku”), sudut pandang peninjau (orang ketiga), dan sudut pandang campuran.
5. Gaya Bahasa
Gaya bahasa adalah cara khas penyusunan dan penyampaian dalam bentuk tulisan dan lisan. Ruang lingkup dalam tulisan meliputi penggunaan kalimat, pemilihan diksi, penggunaan majas,dan penghematan kata. Jadi, gaya merupakan seni pengungkapan seorang pengarang terhadap karyanya.
6. Tema
Tema adalah persoalan pokok sebuah cerita. Tema disebut juga ide cerita. Tema dapat berwujud pengamatan pengarang terhadap berbagai peristiwa dalam kehidupan ini. Kita dapat memahami tema sebuah cerita jika sudah membaca cerita tersebut secara keseluruhan.
7. Amanat
Melalui amanat, pengarang dapat menyampaikan sesuatu, baik hal yang bersifat positif maupun negatif. Dengan kata lain, amanat adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang berupa pemecahan atau jalan keluar terhadap persoalan yang ada dalam cerita. Adapun unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangun cerita sebuah karya.
Tugas
1. Pilihlah sebuah cerpen kemudian bacalah cerpen tersebut (setiap anak tidak boleh sama)!
2. Analislah tema, latar dan penokohan dari cerpen tersebut!
3. Kirim tugas tersebut ke komentar dalam fauzazi.wordpress.com paling lambat tanggal 10 Juni 2010!
SOAL 1 : Kuingin kau
berbohong padaku. Seperti yang kau utarakan kemarin, dan yang kemarin
dulu itu. Ketika mentari meredup berpendar di pucuk daun sebelah barat
rumah dan ketika kerumunan itu tak lagi bersamamu, kau mulai dengan
kisah kebohonganmu yang pertama kepadaku. Bukti bahwa kutipan cerpen
tersebut berlatar waktu sore adalah.… A. Mentari meredup B. Mentari di
sebelah barat C. Ketika kerumunan tidak bersama D. Kebohongan yang
disampaikan tokoh kamu KUNCI JAWABAN : B PEMBAHASAN : Latar selalu
berhubungan dengan tempat dan waktu. Temukan kata kunci yang merujuk
pada waktu menjadi bukti latar pada kutipan drama tersebut. Kata kunci
pada kutipan tersebut adalah mentari di sebelah barat. Kata kunci :
mentari meredup…( di sebelah barat)… Soal 2: (1)"Apakah peranku bagimu,
silumankah aku?" tak ada jawabmu, hanya angin berdesir di sekeliling
kita. (2)Bulan pucat tak bisa menyembunyikan senyumanmu demi melihat
kerutan di dahiku. (3)Biarlah menjadi rahasia alam akan apa yang kita
rasakan ini. (4)Jangan lagi memaknainya, menanyakannya atau
mengharapkannya esok hari. Bukti bahwa kutipan cerpen tersebut berlatar
malam hari terdapat pada nomor …. A. (1) B. (2) C. (3) D. (4) Kunci
Jawaban : B Pembahasan : Latar selalu berhubungan dengan tempat, waktu,
dan suasana. Temukan kata kunci yang merujuk pada waktu menjadi bukti
latar pada kutipan drama tersebut. Kata kunci pada kutipan tersebut
adalah mentari di sebelah barat. Kata kunci: Bulan .... Indikator Soal :
Disajikan kutipan cerpen, siswa dapat menentukan bukti latar tempat
pada kutipan cerpen tersebut Bacalah kutipan cerpen berikut dengan
saksama Dengan memberanikan diri, aku pun bertanya, "Apa Ibu kenal
dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sana itu?" Ia
menjawab, "Silakan masuk, Nyonya! Kalau Anda ibunya Eric, sungguh Anda
tak punya hati!”. Ia membuka pintu tempat tinggalnya. (1) "Tolong
katakan, di mana ia sekarang? Saya janji menyayanginya dan tidak akan
meninggalkannya lagi!” (2) Aku berlari memeluk tubuhnya yang bergetar
keras. "Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang,
Eric telah meninggal dunia. Jasadnya ditemukan di kolong jembatan,”
jawabnya dengan suara terbata-bata. (3) ”Eric... maafkan Ibu, Nak!” Aku
sungguh menyesal, mengapa anakku Eric, dulu kutinggalkan. (4) Bukti
latar tempat pada kutipan cerita tersebut ditandai nomor ... A. (1) C.
(3) B. (2) D. (4) KUNCI JAWABAN : A PEMBAHASAN : Latar merupakan tempat,
waktu, dan atau suasana peristiwa cerita terjadi. Untuk menemukan latar
perlu mencermati kata yang meujuknya. Kata kunci (yang dirujuk): …
membuka pintu …(latar tempat) Indikator Soal : Disajikan sebuah kutipan
cerpen, siswa dapat menentukan bukti latar waktu dalam cerpen tersebut
Soal : Bacalah kutipan cerpen berikut dengan saksama kemudian kerjakan
soal nomor 18 s.d. 20! Seperti teman-temannya yang lain, sebenarnya Andi
ingin sekali memberi hadiah untuk Tommy, tetapi ia tidak enak hati
meminta uang pada ibunya. Apalagi, ibu hanya diam ketika ia menyodorkan
undangan pesta ulang tahun Tommy kemarin. Saat itu, ibu sedang
duduk-duduk di beranda sambil memandangi matahari yang mulai tenggelam.
Diamnya ibu, pertanda ibu belum punya uang untuk membeli hadiah. Andi
sadar, sejak ayahnya meninggal tiga tahun yang lalu, ia dan ibunya
memang harus hidup hemat. ”Ah masa iya aku tak bisa memberi hadiah untuk
Tommy temanku?” gumam Andi seraya bangkit dari tempat tidur
pembaringan. Ia beranjak menuju meja belajarnya. Dimatikannya lampu
tidurnya dan digantinya dengan lampu belajar. Ia mengambil secarik
kertas, pensil, dan spidol warna-warni. Tangannya mulai mencorat-coret.
Kini, ada senyum menghiasi bibirnya, “Besok pagi, aku sudah punya hadiah
untuk Tommy.” Bukti bahwa peristiwa tersebut terjadi pada malam hari
adalah .... A. kalimat pertama pada paragraf pertama B. Kalimat kedua
pada paragraph pertama C. Kalimat ketiga pada paragraf kedua. D. Kalimat
keempat pada paragraf kedua Kunci Jawaban : C Pembahasan : Bukti bahwa
latar cerita pada malam hari: Dimatikannya lampu tidurnya dan digantinya
dengan lampu belajar Indikator Soal : menentukan amanat yang terdapat
pada kutipan cerpen tersebut SOAL : Amanat yang terdapat pada kutipan
cerpen tersebut adalah ... A. Kita harus menyesuaikan diri di mana pun
berada. B. Pikir dulu sebelum bertindak, sesal kemudian tidak berguna.
C. Tidak ada kata terlambat untuk memaafkan. D. Kita harus menghormati
ibu yang telah melahirkan. KUNCI JAWABAN : B PEMBAHASAN : Kalimat yang
dirujuk menggambarkan Seorang ibu menyesal telah menelantarkan anaknya,
tetapi yang telah terjadi, tak dapat terulang kembali. Indikator Soal :
Disajikan sebuah kutipan cerpen, siswa dapat menentukan amanat kutipan
cerpen tersebut Soal : Amanat yang terdapat pada cerpen tersebut adalah
... A. Jangan menyusahkan orang tua hanya karena ingin memberi hadiah
teman! B. Usahakan selalu memberi hadiah kepada teman orang tua! C.
Temanilah ibumu saat duduk-duduk di beranda! D. Matikan lampu jika sudah
tidak diperlukan! Kunci Jawaban : A Pembahasan : Amanat sama maknanya
dengan pesan, yakni ajaran yang hendak disampaikan pengarang kepada
pembaca melalui karyanya. Keberadaan amanat pada umumnya tersirat,
tetapi ada juga tersurat. Amanat yang terdapat pada cerpen tersebut
adalah jangan menyusahkan orang tua hanya karena ingin memberi hadiah
teman. SOAL-SOAL LAINNYA : Indikator Soal : Disajikan kutipan cerpen,
siswa dapat menentukan bukti perwatakan tokoh cerpen tersebut SOAL : (1)
Boleh jadi, itu sikap angkuhnya seorang yang sukses dan kaya menghadapi
pemuda kere macam aku. (2) Sebagai pimpinan sebuah bank papan atas di
negeri ini, mungkin dia tak rela hati anak gadisnya kupacari. (3) Jadi,
amat wajar dia kelihatan tidak suka terhadapku. (4) Apalagi tampangku
tidak keren kayak aktor Nicholas Saputra, sementara wajah Mawar memang
cakep. (5) Kamu sendiri bilang, Mawar mirip Dian Sastro dengan bodi
semampai macam Luna Maya (padahal menurutku, Mawar lebih mirip penyanyi
kesukaanmu, Mulan Jamila). Bukti bahwa watak tokoh ‘dia’ pada kutipan
cepen tersebut sombong terletak pada kalimat bernomor .… A. (1) dan (2)
B. (2) dan (3) C. (3) dan (4) D. (4) dan (5) KUNCI JAWABAN : A
PEMBAHASAN : Watak adalah gambaran perilaku atau sikap tokoh dalam
sebuah cerita yang berhubungan dengan sifat duniawi. Watak tersebut
tergambar pada kalimat-kalimat yang mengacu pada karakteristik tokoh
menjadi bukti watak tokoh pada teks tersebut. Kata kunci : (1) boleh
jadi…(sikap angkuhnya)… (2) Sebagai pimpinan…( dia tak rela hati anak
gadisnya kupacari) Indikator Soal : Disajikan sebuah kutipan cerpen,
siswa dapat menentukan bukti watak tokoh cerpen tersebut Soal : Ku tak
mungkin jatuh cinta kan? Tidak sekarang, tidak denganmu. Pesonamu
menjeratku tapi aku tak kan membiarkan diriku jatuh cinta kepadamu. Tak
kan pernah kupercaya segala tuturmu kepadaku, dan ku akan selalu
menganggap bohong apa pun yang kau ucapkan kepadaku sejak itu, termasuk
yang itu ... yang dua kali kau sampaikan padaku. Sampai kapan pun kau
merayuku, aku tak akan pernah lagi percaya padamu.
Kebohongan-kebohonganmu telah merusak cintaku. Bukti bahwa watak tokoh
kamu pembohong dapat diketahui melalui …. A. Tingkah laku tokoh kamu B.
Tingkah laku tokoh aku C. Dialog tokoh kamu D. Dialog tokoh aku Kunci
Jawaban : D Pembahasan : Watak adalah gambaran perilaku atau sikap tokoh
dalam sebuah cerita yang berhubungan dengan sifat duniawi. Watak
tersebut tergambar pada kalimat-kalimat yang mengacu pada karakteristik
tokoh menjadi bukti watak tokoh pada teks tersebut. Kata kunci: (1) ...
ku akan selalu menganggap bohong apa pun yang kau ucapkan .... (2)
Kebohongan-kebohonganmu telah merusak cintaku. Bacalah dengan saksama!
Di Kantor Pos Oleh: Muhammad Ali “Tadi agaknya telah terjadi suatu
kekeliruan ketika Nona membayarkan uang pos wesel kepada saya, sebab ….”
“Mana bias keliru?” si pegawai menyela dengan cepat. “Seharusnya saya
terima tiga ratus rupiah, bukan? Kalau tak salah, sekian itulah angka
yang tertulis dalam pos wesel saya.” “Coba saya liat dulu, Saya masih
ingat nomor pos wesel Saudara.” Si pegawai lalu memeriksa salah satu
lajur dalam daftar yang terkembang di hadapannya, kemudian katanya,”Nah
ini, wesel nomor satu empat tujuh dengan tanda C. Jumlah uang:tiga ratus
rupiah. Apa yang keliru? Bukankah tadi Saudara terima dari saya tiga
ratus rupiah?” “Tidak,”jawab laki-laki itu.” Nona tadi memberikan kepada
saya bukan tiga lembar kertas ratusan, tapi empat lembar. Jadi, empat
ratus rupiah yang saya terima tadi.” “Oh,, kalau begitu saya keliru.
Benar-benar keliru,” kata si pegawai akhirnya dengan
kemalu-maluan.”Maklum banyak kerja. Lagi pula lembaran-lembaran uang itu
masih baru hingga mudah saja terlengket karenanya. Jadi, Saudara mau
kembalikan uang yang seratus rupiah kepada saya, sekarang?” “Betul, Saya
akan mengembalikannya kepada Nyonya ….” “Nona!” sela si pegawai cepat.
Kutipan cerpen tersebut bertema …. a. Keberanian pegawai mengakui
kekeliruan. b. Kehati-hatian pegawai terhadap seseorang. c. Kejujuran
seseorang dalam hidup. d. Kebaikan seseorang terhadap pegawai pos. Sudut
pandang yang digunakan pengarang pada kutipan cerpen tersebut adalah …
a. Orang ketiga sebagai pengamat b. Orang pertama tokoh utama c. Orang
campuran d. Orang ketiga manatahu Parjimin adalah tukang batu, tetangga
Kurdi. Lumayan bagi mereka, mendapat proyek baru. Rupanya, proyek rumah
gedong itulah yang selalu diperbincangkan Kurdi disetiap kesempatan. Di
tempat perhelatan nikah, supitan, di tempat kerja bakti, sarasehan
kampung, sampai ronda malam. Dia senantiasa tidak lupa menceritakan
rencananya membangun rumah gedungnya itu. Berdasarkan kutipan cerpen
tersebut, Kurdi bersifat … a. pemberani b. baik c. egois d. sombong
Make Money Online : http://ow.ly/KNICZ
Make Money Online : http://ow.ly/KNICZ
Make Money Online : http://ow.ly/KNICZ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar