Rabu, 07 Desember 2016

PTK Bahasa Indonesia SD (BAB V PENUTUP)

PTK Bahasa Indonesia SD (BAB V PENUTUP)


JASA PEMBUATAN PTK  (PENELITIAN TINDAKAN KELAS)

Harga Per PTK 300ribu, Kalau ambil lebih dari dua bisa kurang.

Untuk Pilihan Judul PTK Klik Disini




A. Simpulan
Dari hasil perbaikan yang telah dilaksanakan dapt ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
  1. Penguasaan materi pembelajaran oleh siswa dapat ditingkatkan melalui penjelasan dengan disertai contoh-contoh dan melibatkan siswa secara langsung dalam pembelajaran.
  2. Setiap siswa memiliki perbedaan individu dalam memenuhi kebutuhannya.
  3. Siswa memerlukan motivasi dalam belajar, baik dari dalam dirinya sendiri maupun dari luar dirinya.
B. Saran Tindak Lanjut
Bedasarkan kesimpulan tersebut, yang sebaiknya dilakukan oleh guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran khususnya meningkatkan keaktifan siswa dalam kelas yaitu:
1. Untuk menjelaskan materi dalam pembelajaran, gunakan alat peraga yang relevan.
2. Memotivasi belajar siswa melalui berbagai pendekatan pembelajaran agar siswa tidak bosan.
3. Metode yang digunakan hendaknya bervariasi untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
4. Penggunaan alat peraga/media pembelajaran yang bagus dan relevan menjadi bagian yang dapat memaksimalkan hasil belajar siswa, sehingga keberadaannya mutlak diperlukan dalam sebuah pembelajaran.
Disamping itu, berdasarkan pengalaman melaksanakan perbaikan pembelajaran melalui PTK, kiranya perlu buku penghubung di anatara guru dan wali murid agar dapat saling mengisi kebutuhan siswa demi tercapainya
tujuan pendidikan secara keseluruhan.

DAFTAR PUSTAKA
Depdiknas, 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta.

Brown, H. Doulas. 1994. Teaching by Principles: An Interactive Approach to Language Pedagogy. New Jersey: Prenice Hail Regent.
Dardjowidjojo, Soenjono, 1993. “Kontroversi di dalam Pendekatan Komunikatif” dalam PELLBA 6 (Pertemuan Linguistik Bahasa Atma Jaya: Keenam), Jakarta: Kanisius. Hal. 79-96.
Djeniah Alim, 1996. Lancar Berbahasa Indonesia 1 Kelas III, Jakarta: Depdikbud.
Hamalik, Oemar, 1990. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Bandung: Citra Aditya Bakti.
Lado, Robert, 1989. Language Teaching: A Scientific Approsch. New Delhi: Tata McGraw-Hill..
Littewood, William, 1981. Communicative Language Teaching: An Introduction. New York: Cambridge University Press.
Nyoman Merdhana, 2002. Tindakan Kelas sebagi Salah Satu Alternatif Pengajaran Menyimak dalam PBIPA. Jakarta:
http://www.ialf.edu/kipbipa/abstracts/nyomanmerdhana.htm.
Wardani, I.G.A.K., Wihardi, Kuswaya, Nasution Noehi, 2002. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta, Universitas Terbuka.
Wardani, I.G.A.K., Siti Julaeha, M.A. Pemantapan Kemampuan Profesional Jakarta, Universitas Terbuka.
Widdowson, H.G, 1978. Teaching Language as Communication. Oxford: Oxford University Press.
Stern, H.H, 1983. Fundamental Concept of Languagr Teaching. Oxford: Oxford University Press.
Sri Anitah W, dkk. 2007. Strategi pembelajaran di SD. Jakarta, Universitas Terbuka.




PTK Bahasa Indonesia SD (BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN)

PTK Bahasa Indonesia SD (BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN)


JASA PEMBUATAN PTK  (PENELITIAN TINDAKAN KELAS)

Harga Per PTK 300ribu, Kalau ambil lebih dari dua bisa kurang.

Untuk Pilihan Judul PTK Klik Disini

A. Hasil Penelitian

Tabel I
Hasil Belajar Siswa Pada Siklus I


Tabel II
Hasil Belajar Siswa Pada Siklus II


B. Pembahasan

Siklus I
Pada saat ini penggunaan kurikulum masih dalam transisi yaitu kurikulum 2006 yang dikenal dengan nama Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum 2006 merupakan penyempurnaan kurikulum sebelumnya yang memiliki karakteristik antara lain; (1) menganut sistem semester, (2) menggunakan pendekatan kompetensi, (3) tematis dan pragmatik, meskipun tidak dinyatakan secara eksplisit tetap menjiwai pembelajaran Bahasa Indonesia, (4) memilki sifat integrative, (5) pembelajaran kebahasaan dan kosakata diajarkan dalam konteks wacana.
Pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya sastra manusia Indonesia (Permen Diknas, No. 22 Tahun 2006).
Hal tersebut sesuai dengan pendapat Widdowson (1978) yang menyatakan bahwa dalam pelaksanaan pengajaran bahsa siswa didorong untuk mengekspresikan fungsi-fungsi bahasa. Pembelajaran bahasa yang menekankan pada kemampuan siswa mengekspresikan fungsi-fungsi bahasa sejalan dengan tujuan pembelajaran bahasa yang mengembangkan kompetensi komunikatif. Sebagaimana dikemukakan oleh Hymes, bahwa penguasaan secara naluri yang dipunyai seorang penutur sejati untuk menggunakan dan memahami bahasa secara wajar dalam proses berkomunikasi atau berinteraksi dengan orang lain dan dalam
hubungannya dengan konteks sosial (Stern, 1983:229). 
Berdasarkan hasil diskusi dengan teman sejawat disimpulkan bahwa pembelajaran yang dilaksanakan sudah menunjukkan kemajuan. Hal ini ditunjukkan dengan siswa mencapai tingkat penguasaan materi yang semakin meningkat, yang dibuktikan dengan pencapaian nilai yang meningkat.
Pelaksanaan perbaikan pembelajaran I dilaksanakan dengan menggunakan alat peraga yang sesuai materi dan disesuaikan dengan tahap perkembangan berpikir siswa SD kelas 3. Peneliti bertindak sebagai guru yang dibantu guru kelas IV sebagai pengamat sekaligus teman sejawat. Hasil tes formatif yang dicapai oleh 16 subyek penelitian mencapai tingkat keberhasilan 75% - 85%. Sedangkan 4 subjek ternyata masih mendapatkan hasil yang belum optimal (65%).
Tindakan perbaikan pembelajaran I difokuskan agar siswa memahami cara menulis karangan sederhana berdasarkan gambar seri. Penerapan pembelajaran yang dilengkapi dengan alat peraga ini memang belum dapat dilaksanakan secara optimal, karena siswa masih sangat tergantung pada instruksi guru (peneliti). Namun demikian, hasil tes formatif 1 ternyata mencapai standar yang ditetapkan. Untuk subjek penelitian yang masih melakukan kesalahan diberikan bimbingan langsung.
Berdasarkan hasil tersebut ditetapkan bahwa tujuan tindakan perbaikan pembelajaran I telah tercapai. Oleh karena itu tidak diperlukan mengulang tindakan, dalam arti dapat dilanjutkan ke tindakan perbaikan II. Hal-hal unik yang muncul pada saat pelaksanaan perbaikan pembelajaran diantaranya adalah pada siklus pertama (1) terjadi perubahan suasana kelas. Dengan kehadiran seorang guru ke dalam kelas (teman sejawat) mebuat siswa terlihat tegang. Perhatian semua siswa tertuju ke depan kelas tanpa ada seorang pun yang bicara. Tetapi setelah diberitahu maksud kedatangan guru tersebut, siswa baru terlihat tenang.
Siklus II
Keefektifan pembelajaran bahasa yang menekankan pada fungsi bahsa tersebut sangat ditentukan oleh guru. Guru dituntut mampu menerapkan pendekatan komunikatif sebagaimana dituntut oleh kurikulum 2006. Pendekatan komunikatif, menurut Littewood (1981:1) adalah pendekatan yang mengintegrasikan pengajaran fungsi-fungsi bahasa dan tata bahasa. Dijelaskannya bahwa pembelajaran bahasa yang komunikatif memberikan perhatian yang sistematik pada aspek-aspek fungsional dan structural dari bahasa memusatkan perhatiannya pada sistem tata bahasa, sedangkan pandangan fungsional memusatkan perhatiannya pada makna yang dikandung oleh bentuk-bentuk linguistic.
Selain itu, guru dituntut pula memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran bahasa. Lado (1979) mengemukakan sejumlah prinsip, yang antara lain adalah (1) sebagian besar waktu siswa digunakan untuk berlatih dan praktik menggunakan bahasa dan (2) mengembangkan sikap positif terhadap bahasa yang dipelajari. Kedua prinsip ini dipandang sangat relevan dengan tujuan pembelajaran bahasa dan pendekatan komunikatif di atas. Guru juga harus memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran bahasa yang langsung berhubungan dengan aspek pembelajaran menulis, mendengarkan, berbicara, dan membaca.
Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut di atas maka dalam pelaksanaan penelitian penguasaan siswa dalam menulis karangan sederhana dengan menggunakan alat peraga berupa gambar-gambar yang bagus dan menarik, menunjukkan bahwa siswa cenderung prestasi belajarnya lebih meningkat. Tindakan perbaikan pembelajaran II merupakan kelanjutan dari tindakan perbaikan I. Pada tindakan perbaikan pembelajaran II difokuskan agar siswa menguasai dan meningkatkan pemahamannya tentang penulisan karangan sederhana melalui gambar seri dengan menggunakan pilihan kata, kalimat, huruf besar, dan tanda titik dengan tepat.
Pada tindakan perbaikan II, peneliti telah berusaha menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif, dan subjek penelitian sudah menampakan antusiasme dan motivasi yang tinggi. Hal ini nampak dari keberanian siswa untuk bercerita dan mencoba menggunakan alat peraga yang disediakan. Hasil tes yang dicapai sudah optimal.
Penerapan pembelajaran yang berorientasi pada penggunaan alat peraga pada tindakan II ini sudah lebih baik dibanding tindakan I, tetapi belum optimal. Alat peraga yang digunakan yang ada di sekitar kelas. Pada tindakan perbaikan pembelajaran II ini, tujuan pembelajaran sudah tercapai. Pada saat pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada siklus kedua, siswa kelas 3 mengalami perubahan tingkah laku. Siswa penuh kosentrasi mengikuti pembelajaran. Banyak siswa yang mengajukan pertanyaan yang kadang-kadang tidak ada hubungannya dengan materi pelajaran, sehingga guru kelabakan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

PTK Bahasa Indonesia SD (BAB III PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN)

PTK Bahasa Indonesia SD (BAB III PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN)



JASA PEMBUATAN PTK  (PENELITIAN TINDAKAN KELAS)


Harga Per PTK 300ribu, Kalau ambil lebih dari dua bisa kurang.

Untuk Pilihan Judul PTK Klik Disini

Atau Cek FB Kami 

DISINI 


A. Lokasi dan Subjek Penelitian
Perbaikan pembelajaran dilaksanakan di SD Negeri Pejagan 03 kecamatan Kota Bangkalan, kabupaten Bangkalan,. Subyek dari peneltian ini adalah siswa kelas III semester 2. Adapun jadwal pelaksanaan perbaikan pembelajaran adalah sebagai berikut:
Tanggal 16 Maret 2010 mata pelajaran Bahasa Indonesia siklus pertama.
Tanggal 23 Maret 2010 mata pelajaran Bahasa Indonesia siklus kedua.

B. Prosedur Penelitian
Tindakan Perbaikan Siklus I
Perencanaan
- Menyiapkan Rencana Perbaikan Pembelajaran.
- Menyiapkan materi pelajaran.
- Menyiapkan media pembelajaran.
- Menyiapkan instrument penelitian (lembar kerja siswa).
Pelaksanaan
- Memotivasi dalam belajar dengan menunjukkan sebuah gambar seri yang belum urut.
- Memberikan beberapa pertanyaan tentang gambar seri yang belum urut.
- Siswa secara kelompok mendiskusikan tentang mengurutkan gambar seri kemudian membuat kalimat untuk setiap gambar serta menyebutkan nama-nama tokohnya.
- Siswa mengumpulkan hasil kerja kelompok.
- Membahas lembar kerja.
- Siswa menyimpulkan materi dengan dipandu oleh guru.
- Guru memberi soal-soal pekerjaan rumah.
Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data hasil belajar siswa, peneliti mengambil dengan menggunakan tes/hasil evaluasi pada akhir pertemuan pembelajaran.

Refleksi
Berdasarkan hasil diskusi yang dilakukan antara peneliti dan observer, refleksi dilakukan dalam beberapa hal:
1. Kesesuaian RPP dengan pelaksanaan.
2. Cara guru memotivasi siswa.
3. Aktivitas siswa pada saat pembelajaran.
4. Sikap guru dalam menangani respon siswa.
5. Cara penggunaan alat peraga/media pembelajaran.
6. Penggunaan waktu secara efisien.
7. Pemantapan penguasaan materi.
8. Pelaksanaan evaluasi.
Tindakan Perbaikan Siklus II
Perencanaan
- Menyiapkan Rencana Perbaikan Pembelajaran.
- Menyiapkan materi pelajaran.
- Menyiapkan media pembelajaran.
- Menyiapkan instrument penelitian (lembar kerja siswa).
Pelaksanaan
- Memotivasi dalam belajar dengan mengadakan tanya jawab tentang gambar seri yang belum urut dengan pertanyaan yang sesuai.
- Siswa secara kelompok mendiskusikan tentang membuat cerita berdasarkan gambar.
- Perwakilan dari setiap kelompok melaporkan hasil kerja kelompoknya.
- Membahas materi kelompok.
- Siswa mengerjakan tugas membuat karangan sederhana berdasarkan pikirannya sendiri secara individu.
- Siswa membacakan hasil karangannya di depan kelas.
- Siswa mengerjakan lembar kerja.
- Membahas lembar kerja.
- Siswa menyimpulkan materi dengan dipandu oleh guru.
- Guru memberi soal-soal pekerjaan rumah.
Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data keaktifan siswa, peneliti mengambil dengan
menggunakan tes/hasil evaluasi pada akhir pertemuan pembelajaran.

Refleksi
Berdasarkan hasil diskusi yang dilakukan antara peneliti dan observer, refleksi dilakukan dalam beberapa hal:
1. Kesesuaian RPP dengan pelaksanaan.
2. Cara guru memotivasi siswa.
3. Aktivitas siswa pada saat pembelajaran.
4. Sikap guru dalam menangani respon siswa.
5. Cara penggunaan alat peraga/media pembelajaran.
6. Penggunaan waktu secara efisien.
7. Pemantapan penguasaan materi.
8. Pelaksanaan evaluasi.

PTK Bahasa Indonesia SD (BAB II KAJIAN PUSTAKA)

PTK Bahasa Indonesia SD (BAB II KAJIAN PUSTAKA)


JASA PEMBUATAN PTK  (PENELITIAN TINDAKAN KELAS)

Harga Per PTK 300ribu, Kalau ambil lebih dari dua bisa kurang.

Untuk Pilihan Judul PTK Klik Disini


Atau Cek FB Kami DISINI 

A. MEDIA PEMBELAJARAN

1. Pengertian Media Pembelajaran

Menurut Heinich, dkk.(1993) media merupakan alat saluran komunikasi. Media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata “medium” yang secara harfiah berarti “perantara”, yaitu perantara sumber pesan (a source) dengan penerima pesan (a receiver). Schramm (1977) menjelaskan bahwa media adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Media juga merupakan sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti buku, film, video, slide, dan sebagainya (Briggs, 1977). Selain itu media merupakan saran komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang dengar, termasuk teknologi perangkat kerasnya (NEA, 1969). Dari beberapa pengertian media di atas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran pada hakikatnya merupakan saluran atau jembatan dari pesan-pesan pembelajaran (messages) yang disampaikan oleh sumber pesan (guru) kepada penerima pesan (siswa) dengan maksud agar pesan-pesan tersebut dapat diserap dengan cepat dan tepat sesuai dengan tujuannya.

2. Fungsi Media Pembelajaran

Dalam kaitannya dengan peranan media pembelajaran, dapat ditekankan beberapa fungsi media pembelajaran sebagai berikut:
  1. Sebagai sarana bantu untuk mewujudkan situasi pembelajaran yang lebih efektif.
  2. Sebagai salah satu komponen yang tidak berdiri sendiri tetapi saling berhubungan dengan komponen lainnya dalam rangka menciptakan situasi belajar yang diharapkan. 3. Selalu melihat kepada kompetensi dan bahan ajar.
  3. Untuk mempercepat proses belajar.
  4. Untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar.
  5. Dapat mengurangi terjadinya penyakit verbalisme.
3. Manfaat Media Pembelajaran
Selain fungsi-fungsi tersebut di atas, media pembelajaran ini juga memiliki nilai dan manfaat sebagai berikut:
  1. Membuat konkret konsep-konsep yang abstrak.
  2. Menghadirkan objek-objek yang terlalu berbahaya atau sukar didapat ke dalam lingkungan belajar.
  3. Menampilkan objek yang terlalu besar atau kecil.
  4. Memperlihatkan gerakan yang terlalu cepat atau lambat.
  5. Memungkinkan siswa berinteraksi secara langsung dengan lingkungannya.
  6. Memungkinkan adanya keseragaman pengamatan atau persepsi belajar pada masing-masing siswa.
  7. Membangkitkan motivasi belajar siswa.
  8. Menyajikan informasi belajar secara konsisten dan dapat diulang maupun disimpan menurut kebutuhan.
  9. Menyajikan pesan atau informasi belajar secara serempak bagi seluruh siswa.
  10. Mengatasi keterbatasan waktu dan ruang.
  11. Mengontrol arah dan kecepatan belajar siswa.
 4. Jenis-jenis Media Pembelajaran

a. Media visual
 Media visual dibagi menjadi 2, yaitu:
1. Media visual yang diproyeksikan (projected visual) Pada dasarnya media visual ini menggunakan alat proyeksi (projector) sehingga gambar atau tulisan tampak pada layer (screen). Media proyeksi ini bisa berbentuk media proyeksi diam, misalnya gambar diam (still pictures) dan media proyeksi gerak, misalnya gambar bergerak (motion pictures). Jenis alat proyeksi yang saat ini bisa digunakan untuk kegiatan pembelajaran diantaranya adalah OHP, slide projector, LCD, dan filmstrips.

2. Media visual tidak diproyeksikan (non projected visual) Jenis media visual tidak diproyeksikan, terdiri atas:
a. Gambar fotografik
Fotografik ini termasuk ke dalam gambar diam/mati, misalnya gambar tentang manusia, binatang, tempat atau objek lainnya yang ada kaitannya dengan isi/bahan pembelajaran yang akan disampaikan kepada siswa.

b. Grafis (graphic)
Merupakan media pandang dua dimensi (bukan fotografik) yang dirancang secara khusus untuk mengkomunikasikan pesan pembelajaran. Jenis media grafis yang sering digunakan dalam kegiatan pembelajaran adalah grafik, bagan, diagram, poster, kartun/karikatur, dan komik.

c. Media tiga dimensi
Media tiga dimensi dalam hal ini terdiri atas media realia dan model. Media realia merupakan alat bantu visual dalam pembelajaran yang berfungsi memberikan pengalaman secara langsung kepada para siswa (direct experiences). Media model merupakan tiruan dari beberapa objek nyata. Model terdiri atas beberapa jenis, yaitu model padat, model penampang, model susun, model kerja, mock-up dan diorama. Masing-masing jenis model tersebut ukurannya mungkin persis sama, mungkin juga lebih kecil atau lebih besar dengan objek sesungguhnya.

b. Media audio
Media audio adalah media yamg mengandung pesan dalam bentuk auditif (hanya dapat didengar) yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan para siswa untuk mempelajari bahan ajar. Jenis media audio terdiri atas program kaset suara, CD audio, dan program radio. Penggunaan media audio dalam kegiatan pembelajaran pada umumnya untuk melatih keterampilan yang berhubungan dengan aspek-aspek keterampilan mendengarkan.

c. Media audiovisual
Sesuai dengan namanya, media merupakan kombinasi audio dan visual atau biasa disebut media pandang dengar. Apabila menggunakan media ini akan semakin lengkap dan optimal penyajian bahan ajar kepada para siswa, selain itu media ini dalam batas-batas tertentu dapat juga menggantikan peran dan tugas guru. Contohnya program video/televise pendidikan, video/televise instruksional, program slide suara, dan program CD interaktif.

5. Penggunaan Media Pembelajaran

Penggunaan media pembelajaran perlu memperhatikan tujuan yang ingin dicapai, sifat dari bahan ajar, karakteristik sasaran belajar (siswa), dan kondisi tempat/ruangan. Yang menjadi pertimbangan antara lain: kesederhanaan, menarik perhatian, adanya penonjolan/penekanan (misalnya dengan warna), direncanakan dengan baik, serta memungkinkan siswa lebih aktif belajar. Dalam melaksanakan tindakan perbaikan, penulis menggunakan media visual yang tidak diproyeksikan.

B. METODE MENGAJAR

1. Pengertian Metode Mengajar

Metode mengajar merupakan salah satu komponen yang harus digunakan dalam kegiatan pembelajaran karena untuk mencapai tujuan pembelajaran maupun dalam upaya membentuk kemampuan siswa diperlukan adanya suatu metode atau cara mengajara yang efektif. Penggunaan metode mengajar harus dapat menciptakan terjadinya interaksi antara siswa dengan siswa maupun interaksi antara siswa dengan guru sehingga proses pembelajaran dapat dilakukan secara maksimal.
Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam penggunaan metode mengajar terutama berkaitan dengan perkembangan kemampuan siswa, diantaranya sebagai berikut:
1. Harus memungkinkan dapat membangkitkan rasa ingin tahusiswa lebih jauh terhadap materi pelajaran.
2. Harus memungkinkan dapat memberikan peluang untuk berekspresi yang kreatif dalam aspek seni.
3. Harus memungkinkan siswa belajar melalui pemecahan masalah.
4. Harus memungkinkan siswa untuk selalu ingin menguji kebenaran sesuatu.
5. Harus memungkinkan siswa untuk melakukan penemuan (inkuiri) terhadap sesuatu topic permasalahan.
6. Harus memungkinkan siswa untuk mampu menyimak.
7. Harus memungkinkan siswa untuk belajar secara mandiri.
8. Harus memungkinkan siswa untuk belajar secara bekerja sama.
9. Harus memungkinkan siswa untuk lebih termotivasi dalam belajarnya.

2. Fungsi Metode Mengajar

Penggunaan metode mengajar dalam pembelajaran memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut:
1. Sebagai alat atau cara untuk mencapai tujuan pembelajaran atau membentuk kompetensi siswa.
2. Sebagai gambaran aktivitas yang harus ditempuh oleh siswa dan guru dalam kegiatan pembelajaran.
3. Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan alat penilaian pembelajaran.
4. Sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan bimbingan dalam kegiatan pembelajaran.

3. Faktor-faktor Metode Mengajar

Penentuan atau memilih metode mengajar dalam pembelajaran harus mempertimbangkan beberapa faktor yang mempengaruhi pembelajaran. Faktorfaktor tersebut adalah sebagai berikut:
1. Tujuan pembelajaran atau kompetensi siswa.
2. Karakteristik bahan pelajaran/materi pelajaran.
3. Waktu yang digunakan.
4. Faktor siswa
5. Fasilitas, media, dan sumber belajar.

4. Jenis-jenis Metode Mengajar

1. Metode ceramah
Merupakan suatu cara penyajian bahan atau penyampaian bahan pelajaran secara lisan dari guru. Bentuk penyampaiannya sangat sederhana dari mulai pemberian informasi, klarifikasi, ilustrasi, dan menyimpulkan. Ceramah yang baik adalah ceramah bervariasi artinya ceramah yang dilengkapi dengan penggunaan alat dan media serta adanya tambahan dialog interaktif atau diskusi sehiingga proses pembelajaran tidak menjenuhkan.

1.1. Karakteristik metode ceramah
- Bersifat memberi informasi.
- Proses pembelajarannya dilakukan secara klasikal.
- Lebih bersifat monoton, guru lebih banyak berbicara.
- Perlu adanya dukungan kondisi yang efektif dari guru.

1.2. Prasyarat untuk mengoptimalkan pembelajaran ceramah
- Guru menguasai teknik-teknik ceramah yang dapat membangkitkan minat, dan motivasi siswa.
- Guru mampu memberikan ilustrasi yang sesuai dengan bahan pembelajaran.
- Guru menguasai materi pelajaran.
- Guru menjelaskan pokok-pokok bahan pelajaran secara sistematik.
- Guru menguasai aktivitas seluruh siswa dalam kelas.
- Siswa mampu mendengarkan dan mencatat bahan pelajaran yang dijelaskan guru.
- Kemampuan awal yang dimiliki siswa berhubungan dengan materi yang akan dipelajari.
- Siswa memiliki emosional yang mendukung untuk memperhatikan dan memiliki motivasi mengikuti pelajaran.

1.3. Keunggulan metode ceramah
- Dianggap ekonomis waktu dan biaya.
- Target jumlah siswa akan lebih banyak.
- Bahan pelajaran sudah dipilih/dipersiapkan.
- Apabila bahan pelajaran belum dikuasai oleh sebagian siswa maka guru akan merasa mudah untuk menugaskan dan memberikan rambu-rambu pada siswa yang bersangkutan.

1.4. Kelemahan metode ceramah
- Sulit bagi yang kurang memiliki kemampuan menyimak dan mencatat dengan baik.
- Kemungkinan menimbulkan verbalisme.
- Sangat kurang memberikan kesempatan pada siswa untuk berpartisipasi secara total.
- Peran guru lebih banyak sebagi sumber pelajaran.
- Materi pelajaran lebih cenderung pada aspek ingatan.

2. Metode Diskusi
Merupakan cara mengajar yang dalam pembahasan dan penyajian materinya melalui suatu problema atau pertanyaan yang harus diselesaikan berdasarkan pendapat atau keputusan secara bersama. Kegiatan diskusi dapat dilaksanakan dalam kelompok kecil, kelompok sedang, dan kelompok besar ataupun diskusi kelas. Kegiatan diskusi dipimpin oleh seorang ketua atau moderator untuk mengatur pembicaraan cara mencapai target.

2.1 Karakteristik metode diskusi
- Bahan pelajaran dikemukakan dalam topic permasalahan..
- Adanya pembentukan kelompok.
- Kelancaran kegiatan diskusi ditentukan oleh moderator.
- Guru berperan sebagai pembimbing, fasilitator atau motivator supaya interaksi dan aktivitas siswa dalam diskusi menjadi efektif.

2.2. Prasyarat untuk mengoptimalkan pembelajaran diskusi
- Guru mampu merumuskan permasalahan sesuai pembelajaran diskusi.
- Guru mampu membimbing siswa untuk merumuskan dan mengidentifikasi permasalahan serta menarik kesimpulan.
- Guru mampu mengelompokkan siswa sesuai dengan kebutuhan permasalahan dan pengembangan kemampuan siswa.
- Guru mampu mengelola pembelajaran melalui diskusi.
- Guru menguasai permasalahan yang didiskusikan.
- Siswa memiliki motivasi, perhatian, dan minat dalam diskusi.
- Siswa mampu melaksanakan diskusi.
- Siswa mampu menerapkan belajar secara bersama.
- Siswa mampu mengeluarkan isi pikiran atau pendapat/ide.
- Siswa mampu memahami dan menghargai pendapat orang lain.

2.3. Keunggulan metode diskusi
- Bertukar pikiran.
- Menghayati permasalahan.
- Merangsang siswa untuk berpendapat.
- Mengembangkan rasa tanggung jawab.
- Membina kemampuan berbicara.
- Belajar memahami pendapat atau pikiran orang lain.
- Memberikan kesempatan belajar.

2.4. Kelemahan metode diskusi
- Relatif memerlukan waktu yang cukup banyak.
- Apabila siswa tidak memahami konsep dasar permasalahan maka diskusi tidak akan efektif.
- Materi pelajaran dapat menjadi luas dan yang aktif hanya siswa tertentu.
Dalam pembuatan laporan ini, penulis menggunakan metode ceramah, diskusi, tanya jawab, penugasan dan presentasi.

PTK Bahasa Indonesia SD (BAB I PENDAHULUAN)

 PTK Bahasa Indonesia SD (BAB I PENDAHULUAN)


JASA PEMBUATAN PTK  (PENELITIAN TINDAKAN KELAS)

Harga Per PTK 300ribu, Kalau ambil lebih dari dua bisa kurang.

Untuk Pilihan Judul PTK Klik Disini


Atau Cek FB Kami DISINI 

A. Latar Belakang
Kurikulum 2006 mengatakan bahwa guru tetap menempati kedudukan yang sentral. Hal itu sejalan dengan pendapat Hamalik (1990) yang menyatakan bahwa siswa hanya mungkin belajar dengan baik jika guru telah mempersiapkan lingkungan positif bagi siswa untuk belajar.

Profesionalisme guru sangat menentukan keberhasilan belajar siswa. Menurut Hamalik (1990), profil kemampuan dasar guru mencakupi: (1) kemampuan menguasai bahan, (2) kemampuan mengelola program belajar mengajar, (3) kemampuan mengelola kelas, (4) kemampuan menggunakan media dan sumber, (5) kemampuan menguasai landasan pendidikan, (6) kemampuan menilai prestasi belajar siswa, (7) kemampuan mengelola interaksi belajar mengajar, dan sebagainya.

Bagi guru kelas yang juga mengajar Bahasa Indonesia, kemampuan di atas belumlah cukup. Guru dituntut pula memiliki keterampilan berbahasa sebab guru sering dijadikan contoh dalam pemakaian bahasa bagi para siswanya. Dalam hubungan ini, Lado (1979) mengemukakan bahwa guru bahasa dituntut memiliki kemahiran berbahasa, pengetahuan bahasa, pengalaman budaya, dan pemahaman tentang teknik pengajaran bahasa.

Keberhasilan sorang guru dalam mengajar akan terlihat dari tercapainya target kurikulum yang telah ditentukan. Tercapainya target kurikulum bisa dilihat dari evaluasi yang diberikan kepada siswa. Apabila evaluasi bisa diselesaikan siswa dengan baik, berarti target kurikulum tercapai. Dengan kata lain guru dikatakan berhasil bila pembelajaran yang diberikan bisa dikuasai anak. Tingkat penguasaan siswa terhadap materi pelajaran dapat dilihat dari keaktifan siswa dalam menjawab pertanyaan atau memberi tanggapan. Keberhasilan siswa juga dilihat melalui nilai yang diperoleh. Ternyata pada ulangan harian yang dilaksanakan
oleh guru khususnya tentang kompetensi dasar “Menulis karangan sederhana berdasarkan gambar seri menggunakan pilihan kata dan kalimat yang tepat dengan memperhatikan penggunaan ejaan, huruf kapital, dan tanda titik”, memperlihatkan nilai-nilai yang diperoleh siswa rendah. Dari 20 siswa yang mendapat nilai 70% ke atas hanya 4 siswa, sedangkan 16 siswa masih 60% ke bawah.

B. Rumusan Masalah
Sebagai guru kelas III, penulis mempunyai masalah dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Permasalahannya pada waktu saya mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia mengenai penulisan karangan sederhana melalui gambar seri adalah “Bagaimana cara meningkatkan pemahaman dan keterampilan siswa dalam menulis/membuat karangan sederhana melalui gambar seri dengan mengoptimalkan sumber dan alat peraga yang relevan?”

C. Tujuan Penelitian
Disamping untuk memperbaiki pembelajaran di kelas, pelaksanaan perbaikan pembelajaran ini bertujuan:
  1. Untuk mengetahui hambatan atau kendala dalam menyajikan materi pelajaran karangan sederhana.
  2. Mendapatkan suatu cara atau metode yang dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran tentang menulis karangan sederhana.
  3. Untuk menerapkan pengetahuan yang bersifat teoritis yaitu Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang hasilnya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan perbaikan proses pembelajaran di kelas guna memperbaiki mutu guru.
D. Manfaat Penelitian
Guna meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran, penulis melaksanakan perbaikan pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilakukan sendiri oleh guru karena mempunyai beberapa manfaat, antara lain: membantu guru memperbaiki pembelajaran, membantu guru berkembang secara professional, meningkatkan rasa percaya diri, dan memungkinkan guru secara aktif mengembangkan pengetahuan tentang keterampilan menulis. Disamping manfaat yang dirasakan oleh guru, penelitian ini juga bermanfaat bagi siswa, yaitu: membantu siswa menyalurkan gagasan/idenya, meningkatkan kemampuan siswa tentang keterampilan menulis, meningkatkan aktivitas siswa dalam menulis karangan, dan sebagainya.

Contoh Proposal PTK Bahasa Indonesia

Contoh Proposal PTK Bahasa Indonesia


JASA PEMBUATAN PTK  (PENELITIAN TINDAKAN KELAS)

Harga Per PTK 300ribu, Kalau ambil lebih dari dua bisa kurang.

Untuk Pilihan Judul PTK Klik Disini


Atau Cek FB Kami DISINI 


1.   Judul Penelitian
Upaya Meningkatkan Kemampuan ……………….dengan Strategi ……………pada  Siswa Kelas IXA SMP Negeri 2 Cicurug 
2.   Latar Belakang Masalah
Apresiasi terhadap karya sastra, terutama prosa, dapat memberikan banyak manfaat kepada seseorang. Lewat karya sastra berupa prosa, seseorang dapat menambah pengetahuan tentang kosa kata suatu bahasa, tentang pola hidup, dan budaya suatu masyarakat. Mereka yang menjadi guru dapat menggunakan hasil apresiasinya sebagai bahan pembelajaran. Orang tua dapat memanfaatkan hasil apresiasinya sebagai bahan cerita untuk putra-putrinya. Para pelajar dapat memanfaatkan hasil apresiasi prosa sebagai bahan menambah pengetahuan pembendaharaan kata, serta pembentukan kepribadian yang baik. Jadi, apresiasi terhadap karya sastra berupa prosa memberikan banyak manfaat.
Upaya pemahaman unsur-unsur dalam prosa melalui kegiatan apresiasi, tidak dapat dilepaskan dari kegiatan membaca. Membaca merupakan kunci dari kegiatan apresiasi prosa. Seseorang dapat mengetahui tokoh, karakter, alur cerita, dan unsur-unsur intrinsik lainnya melalui kegiatan membaca prosa tersebut. Namun, pada kenyataannya siswa sering mengalami kesulitan untuk dapat memahami unsur-unsur sebuah prosa, khususnya cerpen.
Berdasarkan hasil diskusi dengan sesama guru-guru bahasa Indonesia di tingkat SMP serta hasil pengamatan langsung di kelas, dapat diketahui beberapa masalah yang berhubungan dengan pembelajaran sastra, terutama pembelajaran mengenai cerpen. Masalah-masalah tersebut antara lain: 1) kesulitan guru dalam mengajarkan sastra (cerpen) dengan cara yang menyenangkan, 2) kesulitan mendorong siswa untuk menggemari karya sastra, 3) kesulitan siswa untuk dapat memahami dan mengapresiasi karya sastra, terutama cerpen.
Atas dasar permasalahan di atas, kita menyadari bahwa seorang guru perlu memiliki strategi yang tepat untuk mengajarkan sastra. Untuk itulah, penulis menganggap perlu penelitian tentang upaya meningkatkan kemampuan apresiasi cerpen melalui strategi strata.
3.   Permasalahan
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka dirumuskan masalah sebagai berikut:
Apakah strategi ……….mampu meningkatkan kemampuan …………..siswa kelas VIII.A SMP Negeri 2 Cicurug Kabupaten Sukabumi?
4. Cara Memecahkan Masalah
Masalah lemahnya kemampuan mengapresiasi cerpen tersebut akan dipecahkan secara bertahap dan serentak dengan menerapkan strategi strata yang terdiri dari tiga langkah pokok, yaitu penjelajahan, interpretasi, dan rekreasi.
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
5.   Tujuan dan Manfaat Penelitian
5.1 Tujuan Penelitian
Sesuai  dengan latar belakang yang disebutkan di atas, penelitian tindakan kelas ini bertujuan meningkatkan kemampuan siswa kelas VIIIA SMP Negeri 2 Cicurug Sukabumi dalam ………..dengan …………..
Secara spesifik penjabaran tujuan tersebut adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa memahami dan meningkatkan unsure intrinsik cerpen, menceritakan kembali isi cerpen dengan kalimat sendiri, serta kemampuan memperoleh kesenangan dan manfaat dari cerpen yang dibacanya.
5.2  Manfaat Penelitian
a)      Bagi Guru
Penelitian tindakan kelas ini dapat mendorong guru lebih terbiasa melakukan penelitian dalam rangka memecahkan masalah pembelajaran. Di samping itu, hasil dari penelitian tersebut akan meningkatkan mutu pembelajaran bahasa Indonesia, terutama pembelajaran sastra.
b)      Bagi Siswa
Penelitian ini akan memberikan manfaat bagi siswa untuk meningkatkan kemampuan memgapresiasi karya sastra (cerpen). Belajar sastra merupakan pembelajaran yangmenyenangkan , dapat menambah wawasan, dan membemtuk kepribadian yang baik.
c)   Bagi Sekolah
Penelitian ini akan memberikan sumbangan dan solusi yang baik untuk memecahkan masalah dan kendala dalam pembelajaran. Dengan cara ini, mutu pembelajaran di sekolah terus meningkat dan memperoleh prestasi yang sebaik-baiknya.
6. Kerangka Teori dan Hipotesis
6.1 Kerangka Teori
Istilah apresiasi berasal dari bahasa latin apreciato yang berarti mengindahkan atau menghargai. Dalam konteks yang lebih luas,istilah apresiasi mengandung makna (1) pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin (2) pemahaman dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang. Pada sisi lain proses apresiasi sastra termasuk apresiasi cerpen, melibatkan tiga unsure inti, yaitu aspek kognitif, emotif, dan evaluatif.
Apresiasi sastra secara langsung adalah kegiatan kegiatan membaca atau menikmati cipta sastra berupa teks maupun penampilan secara langsung. Kegiatan membaca suatu teks sastra secara laamgsung itu dapat diwujudkan dalam bentuk perilaku membaca, memahami, menikmati, serta mengevaluasi teks sastra, baik cerpen, naskah drama, novel, maupun puisi. (Aminuddin, 1987:36)
Strategi strata merupakan strategi pembelajaran sastra yang menekankan pada tiga langkah pokok, yaitu penjelajahan, interpretasi, dan re-kreasi.
Pada tahap penjelahan, siswa melakukan penjelajahan terhadap cipta sastra yang disukainya atau yang disarankan guru. Penjelajahan dapat dilakukan dengan membaca karya sastra (cerpen). Kegiatan ini dilakukan untuk mendapat gambaran dan pemahaman karya sastra tersebut.
Langkah interpretasi berarti penafsiran dari cipta sastra yang dijelajahi. Penafsiran dapat dilakukan dengan menganalisis unsure-unsur yang membangun cipta sastra tersebut.
Rekreasi berarti langkah pendalaman. Pada tahap ini siswa diminta mengkreasikan kembali apa yang telah dipahaminya. (Ahmadi, 1990: 92-93)
6.2  Hipotesis  Tindakan
Berdasarkan kerangka teori di atas, maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah :
Dengan strategi strata dalam pembelajaran apresiasi cerpen, maka kemampuan apresiasi cerpen siswa kelas VIII A SMP Negeri 2 Cicurug Sukabumi akan meningkat.
7.   Rencana Penelitian
7.1  Setting Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di SMP Negeri 2 Cicurug Kabupaten Sukabumi, tepatnya siswa kelas VIII A yang berjumlah 48 orang.
7.2 Faktor yang Diteliti
1) Siswa
Siswa akan diteliti kemampuannya dalam memahami dan menikmati cerpen dengan strategi strata.
2)  Guru
Guru akan diteliti tentang cara guru merencanakan  pembelajaran serta pelaksanaan di kelas.
7.3 Rencana Tindakan
Tahapan penelitian tindakan terdiri dari beberapa siklus, setiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai. Untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap cerpen dengan mengungkapkan unsure-unsur intrinsik cerpen, maka diberikan tes yang berfungsi sebagai tes awal. Selain itu, dilakukan pula observasi untuk mengetahui tindakan yang tepat bagi siswa dalam rangka meningkatkan kemampuan siswa mengapresiasi cerpen .
Berdasarkan hasil evaluasi dan observasi awal, maka ditetapkanlah bahwa tindakan yang digunakan meningkatkan kemampuan siswa dalam mengapresiasi cerpen adalah metode strategi strata. Adapun tahapan Tindakan Kelas ini mengikuti prosedur sebagai berikut :
1)         Perencanaan
Adapun kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan adalah sebagai berikut :
  1. Membuat skenario pembelajaran.
  2. Menyusun lembar observasi.
  3. Membuat alat bantu.
  4. Merancang alat evaluasi untuk mengukur kemampuan siswa.
2)    Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah melaksanakan skenario pembelajaran yang telah direncanakan.
3)     Observasi
Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah melakukan observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar.
4)         Refleksi
Data yang diperoleh dari hasil observasi ataupun evaluasi dikumpulkan dan dianalisis. Berdasarkan data tersebut guru dapat mengadakan refleksi, apakah kegiatan yang dilakukan telah meningkatkan kemampuan siswa dalam mengapresiasi cerpen. Hasil dari analisis data inipun dapat digunakan sebagai acuan untuk merencanakan langkah berikutnya.
7.4 Pengumpulan Data
Jenis data yang diperoleh adalah data kuantitatif dan kualitatif. Data ini terdiri dari data hasil belajar, rencana pembelajaran, dan hasil observasi terhadap pelaksanaan pembelajaran.
Adapun cara pengumpulan data mengikuti langkah sebagai berikut :
1)      Data hasil belajar diperoleh dengan memberikan tes kepada siswa.
2)      Data tentang situasi pembelajaran diperoleh dengan menggunakan lembar observasi.
3)      Data tentang refleksi serta perubahan yang terjadi diambil dari jurnal yang dibuat oleh guru.
7.5 Indikator Kerja
Indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas ini adalah apabila kemampuan siswa mengapresiasi cerpen rata-rata mendapat angka 75. Selain itu, siswa memiliki sikap positif terhadap karya sastra, terutama cerpen.
8.  Jadwal Penelitian
No.Uraian KerjaBulan ke
1234
1.Persiapan
  1. Penyusunan Proposal
  2. Seminar Proposal
  3. Penyusunan
X
X
X
2.Pelaksanaan Penelitian

  1. Pengambilan Data
  2. Pengolahan Data
  3. Interpretasi Data
X
X
X
3.Pelaporan

  1. Penyusunan Draf Laporan
  2. Penyempurnaan Draf Laporan
  3. Seminar Hasil Penelitian
  4. Penyempurnaan Laporan
X
X
X
X

9.  Alokasi Dana Penelitian
Dana yang dibutuhkan untuk pelaksanaan penelitian ini diperkirakan sebesar Rp 3.500.000,00  (satu juta lima ratus ribu rupiah)    Dana tersebut dialokasikan sebagai berikut :
Honorarium /Insentif
a. 4 bln x Rp 400.000,00                                             Rp  400.000,00
Jumlah (1)      Rp  400.000,00
Bahan dan Peralatan
a. Kertas HVS 2 Rim (@ Rp 40.000)                         Rp    80.000,00
b. Kertas HVS bergaris 2 pak (@ Rp 15.000)            Rp    30.000,00
c. Tinta Printer                                                            Rp    50.000,00
Jumlah (2)      Rp  160.000,00
  1. Laporan Penelitian
a. Pengumpulan data (Fotocopy)                                Rp  100.000,00
b. Pengolahan data                                                      Rp  400.000,00
c. Pengetikan naskah (50 x Rp 25.000)                      Rp  125.000,00
d. Penggandaan naskah dan penjilidan                       Rp  300.000,00
Jumlah (3)      Rp  925.000,00
  1. Seminar
a. Seminar proposal                                                     Rp  500.000,00
b. Seminar hasil penelitian                                          Rp  500.000,00
Jumlah (4)      Rp 1.000.000,00
  1. Perjalanan pencarian data /pengolahan data               Rp  515.000,00
dan pelaporan
Jumlah (5)      Rp 515.000,00
11. Bimbingan                                                                   Rp 500.000,00
Jumlah (6)      Rp 500.000,00
Jumlah (1) + (2) + (3) + (4) + (5)                 Rp 3.500.000,00
10.  DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Mukhsin. 1990. Strategi Belajar Mengajar Keterampilan    Berbahasa dan Apresiasi Sastra. Malang : YA3 Malang.
Aminudin. 1987. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Malang : YA3 Malang.
Arikunto, Suharsimi, Suharjono, dan Supardi. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Halim, Amran, Jazir Burhan, dan Haroen Al Rasjid. 1982. Ujian Bahasa. Jakarta : PT. Wira Nurbakti.
Hidayat, Kosadi, Jazir Burhan, dan Undang Misdan. 1990. Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Bandung: Bina Cipta.
Husnan, Ema, DKK. 1987. Apresiasi Sastra Indonesia. Bandung: Angkasa.
Siregar, Sori. 2001. Titik Temu: Kumpulan Cerita Pendek. Jakarta: Balai Pustakan.
Tarigan, Henry Guntur. 1987.Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.