Minggu, 06 Januari 2013

Menulis cerpen

Menulis cerpen

  Di kelas (kelas IX), kalian akan bertemu materi ini nanti. Tapi, eit... jangan ngacir dulu. Menulis cerpen itu mengasyikkan. Sebagai penulisnya, kamu bisa menjadi tokoh dalam cerpenmu itu. Kamu bisa jadi siapa saja yang kamu mau. Misalnya, jadi seorang tokoh yang tergabung dalam sebuah boyband atau girlband layaknya Sm*sh ataupun Cherrybelle, lalu terjadi satu peristiwa yang terserah kamu mau buat seperti apa. Mengasyikkan bukan?
Saya juga punya lumayan banyak cerpen yang saya buat waktu masih jadi pelajar dulu. Sempat diketik dan dijadikan buku lalu difotokopi (diperbanyak) oleh teman-teman saya waktu di bangku SMA dulu. Nanti akan saya kutipkan satu atau beberapa di antaranya.
Oleh karena itu, simaklah dahulu penjelasan ini.......
     
        Cerpen (cerita pendek) adalah karangan pendek yang berbentuk prosa. Cerpen merupakan penggalan peristiwa hidup seseorang baik yang mengharukan, meyedihkan, menggembirakan, maupun pertikaian, dan mengandung kesan yang tidak mudah dilupakan.

        Jalan cerita sebuah cerpen memang pendek. Akan tetapi, bukan berarti bahwa semua cerita pendek itu dinamakan cerpen. Misalnya fabel, dongeng, anekdot, dan cerita-cerita rakyat merupakan contoh cerita pendek, tetapi tidak bisa disebut cerpen.

        Dalam menulis cerpen hendaknya diperhatikan alur, tokoh, latar, dan tema. Alur dalam cerpen tidak terlalu rumit dan mengandung arti sebagai rentetan cerita yang didasari sebab-akibat. Tokohnya yang dimunculkan hanya beberapa orang saja. Latar (tempat dan waktu) dilukiskan terbatas dan hanya sebentar. Temanya hanya mengungkap hal yang sederhana.

Ciri-ciri cerpen:

  • Ceritanya fiktif/ rekaan. Walaupun begitu,  isi ceritanya logis dengan kehidupan sebenarnya.
  • Tema cerita berfokus pada satu aspek cerita, yang menimbulkan efek dan kesan tunggal.
  • Mengungkapkan masalah yang terbatas pada hal-hal yang penting saja.
  • Menyajikan peristiwa yang cermat dan jelas.


      Berikut contoh cerpen yang pernah saya buat semasa duduk di SMA (24 Oktober 1993). Saat SMA, saya sekolah jauh dari tempat tinggal sehingga harus nge-kost. Berikut kisahnya:

Kisah Serantang Kolak
        Ketika aku tersadar dari mimpi, hari sudah siang. Dengan agak malas, aku bangkit dari pembaringan. Kemudian meninggalkan kamar setelah membereskan peraduan dan mengambil handuk.
        Suasana kost pagi ini amat lengang. Lumrah kok. Hari minggu begini, biasanya anak-anak masih pada ngorok di ranjangnya. Maklum, semalam begadang, nonton parabola di rumah sebelah.
Gitulah keadaan anak kost. Kadang-kadang memang kompak. Minggu pagi kemarin, kami kompak lari pagi rame-rame. Yah, sekadar refreshing gitulah selain raga menjadi bugar. Apalagi tujuan kami adalah pantai. Wah, senang deh hati ini. Di pantai kita bisa mandi sepuasnya. Atau, kalau ada sobat yang bawa kamera, wow peristiwa itu bisa diabadikan. Apalagi ada doi di samping, wah wah wah, lupa dong ama ulangan udah dekat. Tapi, pagi ini anak-anak tidak ada yang morning run. Kali ini memang nggak kompak. Ada teman yang ngajak, namun berhubung banyak yang lagi kena penyakit ogah, ya terpaksa nggak ada yang running to the beach.

Menulis cerpen

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar